Saya Menyukai Dunia Saya

Saturday, June 28, 2014

Meja kerja
Saya suka merawat sesuatu yang hidup. Setelah dulu merawat 9 hamster, sekarang saya lagi keranjingan berkebun. Kalau dulu, biasanya saya hanya membantu dan menonton ayah saya mengurusi tanaman-tanamannya. Sekarang, saya sudah punya meja kerja sendiri, menanam bibit-bibit sawi atau melon di rumah. Tanaman yang sedang benar-benar saya urus adalah peppermint. Berawal dari membeli bibit-bibit tanaman online dari Malang, saya diberi satu tanaman peppermint gratis. Awalnya saya sudah cukup khawatir akan mati, karena begitu sampai di rumah saya kondisinya sudah sangat kering. Maka, saya pun berambisi menyehatkannya kembali.

Hampir mati

Berkebun mengajarkan kita banyak hal. Terakhir, saya membaca sebuah studi bahwa bangsa yang menanam padi memiliki karakteristik berbeda dengan bangsa yang menanam gandum. Bangsa Asia Tenggara yang menanam padi kemudian ditemukan lebih toleran, kolektivis, dan berpikir holistik (Talhelm, et al., 2014). Karakteristik tersebut membuat kita jauh lebih nepotis dari bangsa Barat, namun juga lebih menghindari perceraian rumah tangga. Menanam padi membutuhkan kerjasama sejumlah orang dalam lahan basah yang luas. Irigasinya pun harus terus berjalan dan diatur sedemikian rupa dari sumber air. Karena kakek saya mengurus lahan pertanian padi dalam jumlah besar, saya belajar banyak bagaimana menyemai padi hingga panen tiba. Dalam sehari, bisa ada 3 tengkulak datang ke rumah kakek saya untuk menawar beras. Hasil tersebut ada setelah 3 bulan menanam, tidak datang setiap tanggal 20, 25, atau 28 seperti kita yang bekerja kantoran. Menanam dan berkebun mengajarkan kita kesabaran.

Berkebun seperti bekerja. Karena seorang teman baik meminta saya menuliskan bagaimana metode kerja saya, yah baiklah. Mungkin ia mengira saya akan menuliskannya dalam sudut pandang psikologi, sebenarnya tidak sama sekali.

1. Saya hanya menanam apa yang saya suka. Semua orang di kantor saya mungkin sudah hafal bahwa saya hanya akan mengerjakan apa yang saya suka untuk kerjakan. Saya sekarang ini sedang menanam caisim, melon, peppermint. Di kantor, saya dan teman-teman berkebun di kantor menanam oregano, bunga matahari Little Leo, sawi, juga merawat kaktus. Ayah saya selalu bilang, kalau berkebun, tanam tanaman yang menyenangkan, biar kamu senang merawatnya. Work is about passion. Maka saya tidak peduli meski sudah sekian kali ditanya, "anak psikologi kok ngurus binatang?" "anak psikologi kok ngurus hutan? Batubara?" "anak psikologi kok kerja di IT?" Saya toh tidak peduli, dan hanya menjawab, "soalnya seru. Saya suka." Saya bahkan tidak peduli mengerjakan beberapa proyek pro bono, hanya karena saya suka pekerjaannya. Lagipula, dunia ini sudah terlalu letih ketika semuanya dikuantifikasikan dengan angka dan "berapa bayarannya?" Hal ini penting karena kita harus tahu mengapa kita mengerjakan sesuatu, bukan sekedar karena gaji. "Tertipu gaji" adalah fenomena yang disebut psychological myopia, yaitu kondisi dimana kita lebih mengindahkan medium yang kita dapatkan ketimbang output sebenarnya dari sebuah perilaku (Hsee, et al., 2003). Saya yakin, output sebenarnya yang kita harus dapatkan adalah kebahagiaan itu sendiri, atau psychological well being, yang tidak harus melulu diukur dengan uang.

Bibit caisim

2. Saya menanam dengan orang yang tepat. Tidak semua orang di kantor saya ajak untuk berkebun. Kami hanya bertiga mengurus tanaman-tanaman yang sudah mulai bertunas dengan sistem hidroponik. Put the right man on the right place. Ketika saya mau membuat website rusa ui dulu, saya langsung mengontak seorang junior di Fasilkom UI. Ia mungkin memang baru belajar koding, tapi saya tahu minatnya untuk lingkungan sangat tinggi. Saya mengajak seorang teman untuk mendesain logo Rusa UI, karena saya tahu kecintaannya akan desain sejak sebelum kuliah di psikologi UI. Semua harus dimulai dengan berkenalan, bertemu orang baru, gali apa yang ia suka, simpan nomor kontaknya, dan jalin hubungan bukan sekedar karena sedang membutuhkan jasanya. Suatu saat, kita akan membutuhkan mereka.

3. Saya memperhatikan apa yang jadi masalah tanaman saya untuk berkembang dan tidak malu jika gagal. Ketika satu sistem hidroponik tidak berjalan baik di seeding tray kami di kantor, kami langsung membuat dam mini agar bisa mengalirkan air secara terus menerus agar si kecambah tumbuh subur. Sama halnya ketika menerima brief pekerjaan, entah dari rekan atau klien, saya akan bertanya, "problemnya apa?" Jawaban yang baik tidak akan keluar dengan pertanyaan yang salah. Maka, bertanya, dan identifikasi masalah adalah penting untuk dilakukan. Dalam konteks ini, saya rasa juga penting untuk tidak pernah takut untuk salah. Kita kerap sudah menemukan masalah yang baik, namun begitu solusi yang baik muncul, kita takut untuk menerapkannya karena kita takut salah. Saya curiga, ini berkembang akibat saat SD kita seringkali dihukum berdiri di depan kelas jika salah mengerjakan soal dan akhirnya malu. Malu tersebut, yang menghambat kreativitas kita saat dewasa. Kita dewasa ini memang menempatkan malu pada hal yang salah, kita malu untuk mengacungkan tangan ketika dosen bertanya atau malu jika bertanya karena kurang mengerti - namun kita tidak malu untuk korupsi dan mengambil hak orang lain (postulat ini sudah saya diskusikan dengan dosen saya pakar Psikologi Sosial dan beliau juga setuju).

Saya rasa tiga hal itu menjadi fundamental. Pada dasarnya, setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bekerja dan menyelesaikan masalah - kata setiap psikolog. Saya juga tidak ingin semua orang yang membaca ini kemudian menjadi identik dengan saya ketika mengerjakan sesuatu. Tapi rasa-rasanya, 3 hal yang sudah saya jabarkan penting untuk diterapkan. Seringkali kita menjadi lelah di tengah pekerjaan karena sebenarnya kita tidak suka pekerjaannya. Tidak peduli berapa banyak orang yang akan terbantu atau berapa besar uang yang dapat dihasilkan, ketidaksukaan akan pekerjaan adalah akar permasalahan HRD di manapun. Turnover tinggi dapat disebabkan hal tersebut, pun seseorang tidak keluar, ia tidak akan mengerjakan sesuatu yang ia tidak suka secara optimal. Sering pula sebuah tim tidak bekerja dengan baik, karena kita menempatkan orang yang salah. Sudah menjadi tren saat ini di dunia HRD untuk merekrut orang bukan berdasarkan IPK atau universitas asal, tapi apakah ia benar-benar tepat untuk mengisi posisi tersebut. Terakhir, sering pula kita salah memilih solusi hanya karena kita salah mengajukan pertanyaan dan mengidentifikasi masalah yang tidak tepat. Saya berikan analogi: mana yang lebih tepat, "masalahnya karena orang tidak peduli lingkungan, jadi banjir dimana-mana" atau "ada beberapa faktor yang menyebabkan banjir, salah satunya kurang pengetahuan akan dampak perilaku sehari-hari terhadap lingkungan". Berdasarkan identifikasi masalah yang pertama, maka intervensi sosial yang dilakukan pasti menggunakan spanduk di tepi sungai dengan tulisan besar "Jangan buang sampah sembarangan", sementara intervensi pada masalah kedua adalah pergi ke sekolah dan rumah-rumah, kemudian mengajarkan membuat lubang biopori dan memilah sampah.

Peppermint yang sehat
Terakhir, saya punya keyakinan bahwa setiap pekerjaan positif akan berdampak positif. Hari ini saya lihat peppermint saya yang hampir mati sudah kembali tumbuh subur, dan setidak-tidaknya, saya sudah menyelamatkan satu nyawa hari ini. Suatu saat, ia pasti akan memberikan saya manfaat lain dan membuat saya bahagia. Catatan kecil, saya sering diselamati oleh beberapa teman karena pencapaian saya. Bukan masalah pencapaiannya yang penting menurut saya, namun ada banyak tahapan panjang dan kegagalan di balik semua itu yang mereka tidak lihat. Semuanya saya rela lakukan, sekedar karena saya memang menyukai dunia saya.

Tunas
"Do not judge me by my successes, judge me by how many times I fell down and got back up again." [Nelson Mandela]


Referensi

Hsee, C. K., Yu, F., Zhang, J., & Zhang, Y. (2003). Medium Maximization. Journal of Consumer Research, 30, 1-14. doi:0093-5301/2004/3001-0001

Talhelm, T., Zhang, X., Oishi, S., Shimin, C., Duan, D., Lan, X., & Kitayama, S. (2014). Large-Scale Psychological Differences Within China Explained by Rice Versus Wheat Agriculture. Science, 344(6184), 603-608. doi:10.1126/science.1246850

You Might Also Like

0 comments

Let's give me a feedback!