Satu Pagi yang Dingin

Monday, July 15, 2013

Pertama kalinya dalam bulan puasa saya menginap di kosan saya di Depok. Saya bangun pukul 3 dini hari, bersiap melakukan ritual bulan Ramadhan saya dan kemudian mencari sarapan. Namun saya urungkan karena periode kewanitaan saya tiba-tiba datang. Akhirnya saya kembali ke tempat tidur meratapi periode ketidaksucian saya. Karena dalam ritual itu, saya harus suci. Padahal saya sedang ingin sekali bicara sama Tuhan. Seolah Tuhan mendengar, hujan tiba-tiba turun. Sangat tiba-tiba. Maka di balik pelukan selimut, saya ditemani suara hujan.Terdengar dari jendela air turun perlahan. Tidak deras, namun bukan pula sekedar menjadi gerimis.

Saya di tengah gelap hanya tergugu. Entah mencari apa. Saya mencari siapa? Saya ingin apa?

Sebuah pembicaraan dengan sahabat yang biasanya di sebelah kamar mengenai dunia psikologi dan ekonomi, pemasaran, dan masa depan, kini tergantikan berbalasan pesan singkat.
Sebuah pembicaraan berlarut-larut di kampus, antara saya yang benci organisasi intra fakultas namun dia adalah pengurusnya, dan dia yang tidak mengenal sama sekali apa yang saya perjuangkan, kini tergantikan pesan-pesan ponsel belaka.
Sebuah pembicaraan hangat yang mengalir mengenai partai politik yang adalah partai kebanggaan bapaknya, dan kita bermisuh-misuh di belakang, pembicaraan mengenai banyak hal, kini untuk sekedar bertemu pun saya seperti menghadap meja birokrasi pemerintah.
Sebuah pembicaraan intim mengenai isi organisasi yang pernah kita tangisi dan perjuangkan bersama dengan kadiv litbang gcui saya dulu, kini tergantikan dengan pesan singkat melalui media sosial.
Sebuah pembicaraan mengenai ideologi kita, yang dulu membuat kita mengepalkan tangan bersama, pergi ke ujung-ujung pulau, saling menghadapkan kepala kita, dibenturkannya dan kemudian menjadi ide kreatif, kini tergantikan dengan pembicaraan di ujung telepon.
Sebuah pembicaraan sederhana tanpa tujuan, yang biasanya mampu menahan kita untuk beranjak hingga larut malam dan semua kios menutup pintu, kini tergantikan dengan sekedar makan malam bersama.

Hidup.
Entah besok apa menggantikan apa atau siapa.
Sebuah rencana kandas, dari Sumatera hingga Sulawesi meski tiket pesawat sudah di tangan, sudah pernah saya santap.
Untuk sekedar bertaruh dengan waktu, "apa nanti kita bisa melakukannya?"

Apa kita masih bisa seperti ini, di jalan ini, berbagi malam dan waktu?
Merelakan pekerjaan masing-masing dan keperluan individual untuk menyediakan ruang?
Jangan mau diatur waktu, iya itu benar.
Tapi waktu tak kenal aral. Ia tak mengenal introspeksi. Ia berputar dalam kecepatan relatif - yang buat saya relatif cepat. Tapi pandangan bahwa waktu berputar cepat bagi orang bahagia itu benar. Tahu-tahu saya sudah 20 tahun. Tahu-tahu saya sudah pernah mengospek orang, menjadi ketua, sudah skripsi. Apakah kemudian akan berganti menjadi "tahu-tahu saya sudah mau mati?" Bisa juga.

Time is moving so fast. Kini saya jadi pengemis waktu. Dan tidak apa-apa. Saya ingin jadi pengemis pada Tuhan. Meminta waktu. Meminta sedikit lagi waktu. Kata Quraish Shihab, jangan pernah memberikan kondisi pada Tuhan. Memintalah, mendesak, meronta, karena Ia tidak memerlukan kondisi apapun untuk hadir bagi kita.

Dengarkan aku Tuhan. Aku ingin meminta waktu.

Hujan kembali menepis sepi.
Lagu Mr. Time dari Andre Harihandoyo and Sonic People menggema, "Excuse me, do you have my time? No, I don't ask it all, just a little of your 24/7. I hate the time, it keeps running way, taking you along on the road. And I fell down..."

April 1969, Soe Hok Gie pernah menuliskan, "Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa. Pada suatu ketika yang lama kita ketahui. Apakah kau masih berbicara selembut dahulu  memintaku minum susu dan tidur yang lelap, sambil membenarkan letak  kemejaku? ...Apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu?"

...ya.
Dulu pertikaian saya dengan pria yang sudah lebih dari satu tahun pernah menemani saya dimulai ketika saya bertanya, "kapan terakhir kali kamu mengelus kepalaku dan berkata, 'sudah tidak apa-apa'...?"

Apakah kau masih akan mendengarkanku tanpa tendensi seperti dulu, saat kita duduk di depan kamar berdua hingga larut malam, sambil bermain dengan kucing lucu yang suka tidur di rak sepatuku? Kapan terakhir kali kau mengetukku lewat pintu kamar mandi dan membawakan berita-berita kecil yang mengejutkan, namun menyenangkan?
Apakah kau masih akan berjalan beriringan denganku di lorong fakultas, membicarakan filosofi seperti dulu, mengenakan kemeja flanel yang sama dan menjadi sosok yang saya kagumi? Kapan terakhir kali kamu menepuk pundakku dengan keras namun terasa hangat?
Apakah kau masih akan seperti sebelum berangkat ke Eropa dulu, tiba-tiba datang untuk berbagi banyak hal dan sekedar menonton teater sambil mengeluhkan kondisi negara? Kapan terakhir kali kamu memanggil saya, "pit, gua mau cerita..." ala anak sekolahanmu itu?
Apakah kau masih akan bertengkar denganku seperti dahulu, merengut-rengut di tengah evaluasi organisasi namun bekerja dengan sangat profesional? Kapan terakhir kali kita duduk berdua dan kamu berkata seperti di pesan singkat itu, "I'm inspired by you."...?
Apakah kau masih akan merangkul saya di tengah keletihan amat sangat, memberi saya sedikit energi untuk memulai kegiatan, mengubah fantasi jadi kenyataan, menunjuk hidung pemerintah seperti dulu? Kapan terakhir kali kau menanyakan "gimana pus hidup lo? Baik-baik sajakah?" atau berkata "aah gue suka tuh idenya!"..?
Apakah kau masih akan datang, menemani siang saya duduk di tempat tertinggi fakultas saya? Apakah kau masih akan sekedar duduk menemani saya di tempat biasa, menghabiskan secangkir susu putih hangat untuk menutup hari, sekedar mengirim pesan "so how's the competition?", menarik saya saat dengan tidak pedulinya menyeberang jalan? Apakah kau masih akan mengingatkanku untuk berdoa sebelum makan meski kita tidak memanggil Tuhan dengan nama yang sama? Kapan terakhir kali kau bercerita tentang kehidupanmu yang kini makin pelit kau bagi?

Saya tidak meminta banyak.
Just a little of your 24/7.
Sebelum waktu menggilas semua hal yang pernah ada.

Langit mulai terang. Saya harus memulai hari.

Waktu bergerak cepat bagi orang yang bahagia.
Dan pagi itu, saya merasa waktu bergerak teramat lambat.

You Might Also Like

0 comments

Let's give me a feedback!